Follow me by email! ;)

Friday, October 2, 2015

Because Breastfeeding is worth fighting for!



Selamat Ayya sayang, sudah lulus S1 ASI!

Mengutip artworknya Meida, ibu dari Maryam (Ayya), “Breastfeeding is worth fighting for!”.
Yes it is! Sebagai ibu baru, saat Kalisha (Asha) masih di dalam perut, saya yakin sekali, bahwa ASI saya akan banyak, lancar, dan berlimpah sampai dua tahun ke depan. Saat suami ragu, “Apa kita nggak sebaiknya menyiapkan ibu susu? Khawatir ASI kamu nggak langsung keluar pasca melahirkan”. Saya dengan yakin menolak. Karena di usia kehamilan delapan bulan pun, kolostrum sesekali keluar saat saya membersihkan puting.

Tidak ada drama saat melahirkan dan pasca melahirkan. ASI pun lancar sesuai prediksi. Sampai kepanikan muncul di satu minggu setelah saya bekerja. Asha mogok nyusu (nursing strike). Entah bingung puting atau kaget akan beberapa hal. Dia seperti trauma melihat puting dan payudara selama 24 jam. Saya stres dan memutuskan tidak masuk kerja. Alhamdulillah Asha mau menyusui lagi di penghujung hari.

Tapi khawatir hal semacam itu kembali datang, saya memutuskan untuk memanggil konselor ASI yang direkomendasikan seorang teman. Sengaja panggil ke rumah, dan mengumpulkan kedua nenek Asha, suami, serta pengasuh Asha. Agar saya tidak berjuang sendirian.

Di titik inilah, saya sadar, betapa beratnya menyusui. Seketika mindset saya berubah. Saya yakin saya mampu menyusui sampai Asha berusia dua tahun. Tapi saya akan selalu bersyukur atas setiap tetes ASI yang saya dapat saat ini. Karena entah apa yang akan terjadi esok. Jika Asha saat itu tidak mau menyusu langsung sampai sekarang, bukan tidak mungkin payudara saya berhenti terangsang sekalipun dipompa dengan berbagai breastpump. Bukan tidak mungkin stok ratusan ASI saya akan habis dalam sekejap, dan Asha tidak lagi bisa ngASI. Sekarang saya mengerti, saat kata-kata “Hebat!”, “Salut!”, dan sebagainya diberikan pada ibu yang sukses menyusui dua tahun, they really  mean it!

Itulah yang juga dialami Ayya. Si cantik ini mengalami bingung puting karena mengempeng dengan jarinya. Ya, jarang memang, biasanya bingung puting terjadi karena dot. Berbagai cara dilakukan, tapi Ayya tetap tidak mau menyusu. Dalam hitungan minggu stok ASI Ayya habis. Tinggal tersisa sedikit sampai Meida berpikir untuk memberinya susu formula, atau memberikan MPASI lebih cepat. Saat itu, Ayya berusia 5 bulan 1 minggu, dan masih ada 3 minggu menuju MPASI.

Saya tahu persis Meida sangat kontra dengan segala jenis susu, apalagi susu formula. Sama dengan saya. Di sisi lain, saya juga tahu betapa stresnya melihat stok yang menipis, berbanding terbalik dengan susu yang dibutuhkan Ayya. Awalnya, saya menawarkan untuk memberikan beberapa stok ASI saya untuk Ayya. Tapi setelah berbicara dengan konselor ASI yang datang ke rumah, saya memutuskan untuk rutin memberikan ASI saya untuk Ayya, sebanyak yang ia butuhkan.

Sebelum memutuskan ini, saya khawatir ASI untuk Asha kurang. Apalagi saya sedang proses relaktasi dengan Asha. Tapi bu Atun, sang konselor ASI ini meyakinkan, bahwa jangan takut ASI kurang. Toh saat ini stok untuk Asha masih berlebih. Jadi ayo berbagi. Akhirnya, setiap minggu selama 3 minggu, 25 kantong asi saya kirim ke rumah Ayya. Alhamdulillah, sekarang Ayya sudah mulai MPASI. Tapi pintu saya masih terus terbuka jika sewaktu-waktu Ayya butuh tambahan ASI.

Sampai sekarang saya masih terus menanamkan dalam otak saya, bahwa saya memompa ASI untuk dua anak. Awal-awal sempat panik kalau ASI yang keluar sedikit. Tapi sebaliknya, lama-kelamaan ASI saya justru keluar lebih banyak dari biasanya.


Sekarang, Asha yang masih 3 bulan sudah punya 2 saudara sepersusuan.. Perjuangan masih berlanjut. One year and nine months to go! Bismillah aja ya sayang.. kita berjuang sama-sama.. J

No comments:

Post a Comment