Follow me by email! ;)

Tuesday, January 3, 2017

A Friendly New Year’s Eve with Kids and Family

Ancol's Fireworks

Sejak menikah, tahun baru selalu menjadi waktu penting bagi saya dan keluarga. Tidak hanya tahun baru itu sendiri, bagi keluarga kami seluruh momen menarik dalam satu tahun harus memiliki memori yang menyenangkan untuk dikenang. Itulah mengapa sebisa mungkin saya dan suami selalu membuat setiap waktu menjadi berharga bagi anak, orang tua, dan kami berdua. Because we are the one who make our own happiness, aren’t we?

Since I’m getting married, the New Year has always been an important time for me and my family. For my family, interesting moments in one year must have a pleasant memory to be remembered. That's why my husband and I always try to make every single time precious for our baby, the elderly, and of course us, as much as possible. We are the one who the make our own happiness, aren’t we?

Merayakan pergantian tahun 2016-2017 ini kami memilih tetap di Jakarta. Suami tidak memungkinkan untuk mengambil cuti panjang di penghujung tahun ini. But hey, Jakarta is a BIG city. Let’s have some fun!

Celebrating the turn of the year 2016-2017 we chose to stay in Jakarta. My husband can’t take couple days off at the end of this year. But hey, Jakarta is a BIG city. Let's have some fun!

Saya memutuskan untuk merayakan pergantian tahun dengan menyaksikan kembang api Ancol yang belum pernah saya saksikan seumur hidup, meski lahir, tumbuh, dan bekerja di sini. Karena punya anak berusia 1,5 tahun, saya memutuskan untuk mencari penginapan dengan harga ‘waras’ di sekitar Ancol. Pilihan pun jatuh pada Ancol Mansion yang berada sangat dekat dengan pantai Carnaval Ancol, tempat kembang api akan dinyalakan.

I decided celebrate the New Year’s Eve by watching Ancol’s fireworks which I have never seen before, although I was born, grow, and work here. Because I had a 1.5 year old daughter, I decided to look for an affordable lodging nearby. Then I chose Ancol Mansion which is located very close to the Carnaval Beach Ancol, where fireworks will be ignited.

Failed Panoramic Picture due to the sea breeze
This is my first time, and this place is sooo recommended! Ancol Mansion berada di luar Ancol, tapi sangat dekat dengan Ancol. Dengan harga yang jauh lebih bersahabat, Ancol Mansion dapat menampung lebih banyak orang dalam satu unit karena memiliki ruang keluarga, dapur, dan balkon selain kamar tidur. Yang paling penting, kami sekeluarga dapat melihat kembang api dengan sangat jelas tanpa harus bermacet-macetan, terkena angin laut, atau pusing mengantri keluar karena pulang dari Ancol bersamaan setelah pesta kembang api selesai.

This is my first time, and this place is sooo recommended! Ancol Mansion is located outside Ancol, but very close to Ancol. With an affordable price, Ancol Mansion can accommodate more people in a single unit with its bedroom, living room, kitchen and balcony. Most importantly, our family can see the fireworks very clearly without crowd, exposed by the sea breeze, or dizziness queuing out after the fireworks finished.

Our ocean view room

The Playground

We call it infinity pool 'enough' with the ocean view, hehehe

You better swim in the morning. The sea breeze is very strong if you swim at noon. My baby couldn't handle it

It's so nice to lay down and enjoy the day by the seaside in the middle of the town

The best parts are…. Kami tetap mendapatkan quality time dengan keluarga, makan malam bersama, tidur-bangun-tidur lagi, dan menyaksikan salah satu pesta kembang api terbaik di Jakarta, gratis!

The best parts are.... We still get quality time with family, have a dinner together, sleeping-awake-back again sleeping if we want to, and watched one of the best fireworks in Jakarta, for free!






Why is Ancol Mansion recommended for NYE?
  •           Dapat menyaksikan kembang api Ancol, gratis (jangan lupa pilih ocean view)
  •           Harga sangat bersahabat
  •           Unit apartemen lebih luas dibandingkan kamar hotel
  •           Fasilitas sama atau bahkan lebih baik dari kamar hotel
  •           Kolam renang luas, children playground, gym


Why is Ancol Mansion recommended for NYE?
  •           Watch Ancol’s fireworks for free (do not forget to select an ocean view unit)
  •           Prices are very friendly
  •           The apartment unit is larger than a hotel room
  •           Has the same facility or even better than a hotel room
  •           Very nice pool, children playground, gym


Kekurangan menginap di Ancol Mansion
  •           Tidak berada di dalam Ancol, jadi kalau mau ke Ancol harus bayar lagi
  •           Selain Ancol, termasuk jauh dari pusat keramaian (tempat makan atau mall)


Disadvantages of staying at Ancol Mansion
  •           It is located outside Ancol. So if you want to go to Ancol, you have to pay again
  •           It is located away of the crowd (culinary areas or malls)


Untuk unitnya, bisa pesan online melalui Airbnb atau situs penyewaan apartemen lainnya, kok. Mudah J


For the unit, you can order online through Airbnb or other apartment rental site. It’s easy J

Friday, October 2, 2015

Because Breastfeeding is worth fighting for!



Selamat Ayya sayang, sudah lulus S1 ASI!

Mengutip artworknya Meida, ibu dari Maryam (Ayya), “Breastfeeding is worth fighting for!”.
Yes it is! Sebagai ibu baru, saat Kalisha (Asha) masih di dalam perut, saya yakin sekali, bahwa ASI saya akan banyak, lancar, dan berlimpah sampai dua tahun ke depan. Saat suami ragu, “Apa kita nggak sebaiknya menyiapkan ibu susu? Khawatir ASI kamu nggak langsung keluar pasca melahirkan”. Saya dengan yakin menolak. Karena di usia kehamilan delapan bulan pun, kolostrum sesekali keluar saat saya membersihkan puting.

Tidak ada drama saat melahirkan dan pasca melahirkan. ASI pun lancar sesuai prediksi. Sampai kepanikan muncul di satu minggu setelah saya bekerja. Asha mogok nyusu (nursing strike). Entah bingung puting atau kaget akan beberapa hal. Dia seperti trauma melihat puting dan payudara selama 24 jam. Saya stres dan memutuskan tidak masuk kerja. Alhamdulillah Asha mau menyusui lagi di penghujung hari.

Tapi khawatir hal semacam itu kembali datang, saya memutuskan untuk memanggil konselor ASI yang direkomendasikan seorang teman. Sengaja panggil ke rumah, dan mengumpulkan kedua nenek Asha, suami, serta pengasuh Asha. Agar saya tidak berjuang sendirian.

Di titik inilah, saya sadar, betapa beratnya menyusui. Seketika mindset saya berubah. Saya yakin saya mampu menyusui sampai Asha berusia dua tahun. Tapi saya akan selalu bersyukur atas setiap tetes ASI yang saya dapat saat ini. Karena entah apa yang akan terjadi esok. Jika Asha saat itu tidak mau menyusu langsung sampai sekarang, bukan tidak mungkin payudara saya berhenti terangsang sekalipun dipompa dengan berbagai breastpump. Bukan tidak mungkin stok ratusan ASI saya akan habis dalam sekejap, dan Asha tidak lagi bisa ngASI. Sekarang saya mengerti, saat kata-kata “Hebat!”, “Salut!”, dan sebagainya diberikan pada ibu yang sukses menyusui dua tahun, they really  mean it!

Itulah yang juga dialami Ayya. Si cantik ini mengalami bingung puting karena mengempeng dengan jarinya. Ya, jarang memang, biasanya bingung puting terjadi karena dot. Berbagai cara dilakukan, tapi Ayya tetap tidak mau menyusu. Dalam hitungan minggu stok ASI Ayya habis. Tinggal tersisa sedikit sampai Meida berpikir untuk memberinya susu formula, atau memberikan MPASI lebih cepat. Saat itu, Ayya berusia 5 bulan 1 minggu, dan masih ada 3 minggu menuju MPASI.

Saya tahu persis Meida sangat kontra dengan segala jenis susu, apalagi susu formula. Sama dengan saya. Di sisi lain, saya juga tahu betapa stresnya melihat stok yang menipis, berbanding terbalik dengan susu yang dibutuhkan Ayya. Awalnya, saya menawarkan untuk memberikan beberapa stok ASI saya untuk Ayya. Tapi setelah berbicara dengan konselor ASI yang datang ke rumah, saya memutuskan untuk rutin memberikan ASI saya untuk Ayya, sebanyak yang ia butuhkan.

Sebelum memutuskan ini, saya khawatir ASI untuk Asha kurang. Apalagi saya sedang proses relaktasi dengan Asha. Tapi bu Atun, sang konselor ASI ini meyakinkan, bahwa jangan takut ASI kurang. Toh saat ini stok untuk Asha masih berlebih. Jadi ayo berbagi. Akhirnya, setiap minggu selama 3 minggu, 25 kantong asi saya kirim ke rumah Ayya. Alhamdulillah, sekarang Ayya sudah mulai MPASI. Tapi pintu saya masih terus terbuka jika sewaktu-waktu Ayya butuh tambahan ASI.

Sampai sekarang saya masih terus menanamkan dalam otak saya, bahwa saya memompa ASI untuk dua anak. Awal-awal sempat panik kalau ASI yang keluar sedikit. Tapi sebaliknya, lama-kelamaan ASI saya justru keluar lebih banyak dari biasanya.


Sekarang, Asha yang masih 3 bulan sudah punya 2 saudara sepersusuan.. Perjuangan masih berlanjut. One year and nine months to go! Bismillah aja ya sayang.. kita berjuang sama-sama.. J

Wednesday, January 8, 2014

Up and Down is My Middle Name, Lately.


Satu jam down, satu jam kemudian up. Satu hari down, besoknya sumringah. Itu lah yang saya rasakan setelah benar-benar memberanikan diri berentrepreneur sendiri. Yes. Totally alone.

Sebelumnya, saya berencana membangun usaha ini bersama salah satu sahabat dari SD yang sebelumnya juga sempat saya tulis di blog. Tapi seiring berjalannya waktu, kurang lebih setahun, usaha itu stagnan. Tidak ada konflik. Sederhana saja, mungkin karena kita berbeda passion. Sempat terlupa untuk meneruskan keinginan menjadi entrepreneur karena tetiba mendapat pekerjaan di kantor baru.

Beberapa bulan bekerja, entah mengapa saya rindu sekali dengan keinginan saya itu. Akhirnya saya memutuskan untuk membangunnya kembali, dan mengerjakannya dengan serius. Karena satu dan lain hal (yang tidak etis untuk diceritakan) motivasi untuk membangun usaha ini pun semakin kuat. Saat itu, saya berencana untuk go public di bulan November 2013. Ya, rasanya bulan ini akan menjadi bulan favorit saya. Pertama kali bekerja di Metro TV, di tanggal 1 November 2008. Pindah ke kantor baru pun, tanggal 8 November 2012. Terakhir, Closhe go public di bulan November. Semoga, target saya selanjutnya di bulan November 2014 ini juga bisa tercapai. Aamiin.

Saya tidak tahu apakah entrepreneur pemula juga mengalami hal seperti saya atau tidak. Tapi ketidakpercayaan diri adalah musuh terbesar dalam setiap langkah saya. Saat semua sudah siap, kekhawatiran pertama adalah; takut akan respon negatif yang akan muncul, dan orang tidak suka dengan produk saya. Ternyata sebaliknya, setelah merubah konsep dan ciri khas, mereka semua merespon sangaattt positif. Kekhawatiran kedua, setelah pesanan-pesanan itu berdatangan dan sepatu dibuat, saya takut sekali tukang sepatu saya gagal memberikan kenyamanan dan kualitas sepatu seperti yang saya mau. Ternyata, hasilnya bagus. Meski belum sempurna dan masih banyak kekurangan di sana-sini. Kekhawatiran ketiga, saya khawatir pelanggan tidak suka, kecewa, atau tidak pas dengan ukuran yang mereka pesan. Hasilnya? Mereka semua suka dan tidak kecewa (atau mereka tidak mau bilang? Hehehe). Tapi memang, beberapa diantaranya ada yang sepatunya kekecilan. Untungnya, masih bisa diatasi. Dan kekhawatiran saya saat ini, apa bisa saya bertahan? Membuat Closhe menjadi besar seperti cita-cita saya, merencanakan dan merealisasikannya tepat waktu.

Apa saya sudah bilang kalau usaha saya bernama Closhe? Ya, sebuah produk sepatu lokal. Inspirator saya dari Indonesia adalah Niluh Djelantik. Dari luar? Banyak. Tidak perlu disebutkan. Semakin berada dekat dengan inspirator, semakin saya merasa yakin bahwa saya bisa. Sayang, sampai saat ini belum berhasil kenal dan ngobrol dengan Niluh.

Up and down is my middle name, lately. Bekerja sebagai karyawan tentunya berada di lingkungan orang yang mungkin tidak terpikirkan untuk berwirausaha. Mereka jadi tidak peduli dan memandang sebelah mata. Sering kali mereka tanpa sadar mematahkan semangat. Padahal kalau mereka tahu, omset saya saat ini, yang bahkan belum sampai 2 bulan, mungkin sudah setengahnya penghasilan mereka per bulan.

Tidak hanya itu, pusing memikirkan pembelian bahan mentah sendiri, pemasaran sendiri, endorse sana sini, konsistensi publikasi, dan lain-lain juga membuat otak saya serasa penuuhh.. Sambil bekerja kantoran, terbayang content plan mingguan yang belum saya lengkapi, terpikir model sepatu di bulan berikutnya, dan mencari-cari siapa lagi yang bisa di endorse. Sering kali down, tapi begitu mendengar berita baik seperti endorser yang merespon cepat, atau teman yang dengan senang hati membantu mempublikasikan, atau melihat pesanan baru datang, saya langsung up lagi. Semangat lagi.

Ahh.. dinamika menjadi pemula. Saya semakin salut untuk mereka yang terus bertahan hingga saat ini, bahkan semakin sukses. Mereka yang percaya diri, dan berani ambil resiko. Mereka yang menginspirasiku.

Wish me luck! And.... if any of you could help introduce me to Niluh, i will straight fly to Bali. Like, seriously. J J

Me and My Baby

Friday, September 6, 2013

Trying The Underwater Photoshoot


MY CREATIVE WEEKEND

Saya sangat suka menari. It's one of my best hobby. Tari tradisi, modern, ballet, kontemporer, atau pun sendra tari (dikombinasikan dengan teater), dengan senang hati saya lakoni. Ajakan pementasan teater dan tari selalu menjadi sesuatu yang menggiurkan buat saya. Tapi menari dalam air? Itu sebuah tantangan baru. Paling tidak, saya belum pernah mencobanya.

I really love dancing to death. It's one of my best hobbies. Traditional dance, modern, ballet, contemporary, or even dance theater, I will gladly being involved. An offer to join theater and dance performance has always been something tempting for me. But dancing in the water? It was a new challenge. At least, I've never tried it.



Awalnya, ajakan dari seorang teman, Marischka Prudence (Prue), hanya sekedar berenang dengan bonus foto-foto bersama Valdya -Prue memang lagi hobby underwater photoshoot sembari latihan nafas dalam air, CMIIW prue-.

Initially, an invitation from a friend, Marischka Prudence (Prue), was just swim with bonus photoshoots with Valdya, -Underwater photoshoot is Prue's hobby rite now, also as a breathing exercise in the water, prue-CMIIW-.

"Ayo Kin, coba foto."

"Let's take some photos!"

Prue langsung ngajak menyelam tanpa tedeng aling-aling. Saya yang tidak mengerti apa-apa, hanya terpikir untuk berpose ala penari, dan bertahan agak lama supaya sukses dijepret. Hasilnya? 5 detik megap-megap!

Prue immediately asked me to dive. No warming up introduction, hahaha. I do not understand anything, i was just thinking to pose a la dancers, and survive a little longer to give Prue sometime to take some pictures. The result? 5 seconds gasp!

My first trial. Out of breath. :s

"Bagus kok. Ini Kinan karena penari kali ya, jadi bentuknya dapet," tutur Prue.

"It's Good. Maybe because Kinan is a dancer, she easily get the shape," said Prue.

Sebenarnya komentar ini yang justru membuat saya berpikir, "oiya, kenapa nggak nari-nari aja di dalam air. Siapa tau jadi lebih tahan lama."

Well, actually this comment is an AHA moment! It just made me think, "aha, why didn't i just dancing in in the water. Maybe i could stay longer inside."

She holds her breath for 50 seconds!

Setelah beberapa kali difoto, saya mulai beradaptasi untuk bisa lebih lama di dalam air, dan ambil napas tanpa terlihat kewalahan dari dalam air. Sementara Prue? Sukses bertahan sampai di 50 detik motret di dalam air. Hebat ciciii!

Having a couple times captured, I began to adapt to stay longer in the water, and take a breath without seeming overwhelmed. While Prue? She's succeeded last up in 50 seconds in the water. Awesome, Ciciii!


This is cool!

Distraction. It's the key. Prue menjadikan keasyikannya memotret sebagai bentuk pengalihan untuk dapat bertahan lebih lama di dalam air. Sementara saya, memilih untuk memikirkan pose ala-ala tari yang menarik supaya nggak itu-itu lagi. Yah, meskipun tidak sampai 10 detik sudah ambil napas lagi ya.. (--,)

Distraction. It's the key. Prue turn the capturing moment as a form of diversion to be able to last longer in the water. While I, chose to think various kind of interesting-dance-poses. Well, although it only lasts less than 10 seconds to take a breath again (--,).

Sayang, ekspresi wajah masih payah.. But, this new experience is sooo fun yet challenging.. i wonder how would it be if i do the laughing pose.. i think i'll do this dancing in the water photoshoot again.. for sure!

Too bad, i lost my expression. It's sucks i couldn't get focus on it. But, this new experience is sooo fun yet challenging .. i wonder how would it be if i do the laughing pose .. i think I'll do this photoshoot dancing in the water again .. for sure!


What an expression.. *#(*^

If i'm not mistaken, kokoh Vry captured this, and he asked to move near the surface.

Need to practice for such an expression :(

Hmmm... say no for my expression!
Focus moved to the property. Meh.

Prue is on the move

Valdya with her expression

We are using prue yellow dress as a photoshoot property :p

I love this pose, great val!

Can never thank Prue enough for such an invitation, thank's Prue!

Wednesday, July 10, 2013

Titik Nol – Agustinus Wibowo



“Kamu sudah diperbudak. Masa lalu sudah lewat, tetapi kamu masih disiksa masa lalu. Listen, tak ada kebahagian di sana. Jangan dipikir lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Masa lalu adalah penyesalan, masa depan adalah ketakutan.” Ujar salah satu sadhu Nepal yang menohok Agustinus Wibowo dalam perjalanannya karena masih memikirkan dompet. satu-satunya harta miliknya yang dicopet.


‘Titik Nol’, buku karya Agustinus Wibowo yang mengulas makna perjalanan yang telah dilaluinya, menyuguhkan cerita yang berbeda dari buku perjalanan lainnya. Mengawali titik nolnya dari Lumajang, Jawa Timur pada usia 19 tahun, ia melanjutkan kuliah di Universitas terbaik di China. Namun kemudian memutuskan untuk mengarungi Tibet, India, Nepal, hingga Afganistan, dan bukan melamar pekerjaan ataupun melanjutkan pendidikan S2. Dengan gaya penulisannya yang detil, Agustinus menggambarkan petualangannya bertemu dengan orang-orang disepanjang perjalanannya. Mencari cara untuk berbaur dengan penduduk setempat di Tibet agar lebih mudah berpindah tempat dan mendapatkan harga lebih murah dengan dananya yang terbatas, hingga petualangannya bisa lolos dari zona perang tanpa terluka sedikitpun.

Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan. (Liam Li, Oktober 2012)

Buku setebal 552 halaman ini menggabungkan dua cerita penting dalam hidup seorang Agustinus, kisah mengenai makna sebuah perjalanan dan kesulitan ibunda yang berjuang melawan kanker ovarium. Dituliskan secara bergantian, dikorelasikan di tiap-tiap bagiannya, yang menjadikan kekuatan dan nilai lebih bagi si penulis dalam menggambarkan sebuah kehidupan.

Ada cerita tentang kemiskinan dan rasa sakit akut di negara-negara yang dilaluinya, seakut kanker sang ibu, sepedih luka hatinya sebagai keturunan etnis minoritas yang pernah terhina, seakut sakit Hepatitis yang membuatnya sering kali ambruk di negeri orang, seakut kepolosannya sampai ia harus mengalami pelecehan seksual di negara mayoritas berpenduduk Muslim, dan seakut perang atas nama Tuhan dan agama.

Perjalanannya ini terus ia ceritakan kepada ibundanya yang sesekali memuji atau menertawakannya. Keyakinan akan harapan hidup ibu yang telah melahirkannya, membawanya pergi ke China, bekerja dan mengumpulkan uang untuk membayar biaya pengobatan dan melunasi hutang yang kian menggunung. Tapi saat ia sedang berjuang, ibunya berpulang. Kembali ke titik nol, ke kekosongan, dan menyisakan cibiran orang-orang yang menganggapnya anak durhaka karena tak berada disisi ibunda saat ia menghembuskan nafas terakhir.

Pembaca diajak melihat dari dua sisi. Bahwa arti kehidupan adalah keberanian, keikhlasan, keterbukaan untuk menerima, dan pada akhirnya, penghargaan dan rasa syukur terhadap apa yang dimiliki. Saat membaca alur cerita dan penulisan terasa begitu panjang dan lama. Tapi pembaca digiring untuk tenggelam bersama Agustinus dan perjalanannya, menikmati setiap sudut kota, dan merasakan kesulitan maupun kebahagiaan yang sedang dialaminya. Saat sedang asyik membaca, sering kali kita dipaksa untuk berpindah ke perjuangan sang ibu melawan kanker. Membuat tanda tanya besar, kemana dan bagaimana kisah ini akan berakhir?

@kinantipahlevi
dan dari berbagai sumber.

Monday, July 1, 2013

Weekend Getaway to Pulau Harapan

Bira Island


Weekend getaway gratitude:
- Lovely, fun, royal friends with madness
- Unexpected island with those white sand and coconuts
- Perfect pictures 
- New holiday link so we could arrange our own tour which is of course cheaper, and i will share it to you, here..


Couple weeks ago i booked a tour package from one of a daily deal site. It's written 47% discount from 700k to 369k. As we know, Indonesia's discount is just a manipulation. Adjust the price first, then discount it. So, we don't really buy a half price stuff. But, it's OK. I still decided to take it, with consideration that i don't have to get confuse with all the boat, home stay, or meals. I think that price is affordable. Besides, my concern is to gather with my old friends from high school.

Then I booked 7 packages to Harapan Island (Hoping Island), an island among the Thousand-Islands island. This is my second time to choose the Thousand-Islands as my weekend getaway. My first time was Tidung island. And this time, I have no idea what's Harapan Island looks like. But by surfing in the internet, reading some references, and seeing it pictures, i bet it'll be fun with those white sand. As always, don't expect too much.

June 22nd, 2013

We gathered with the tour travel in SPBU Dermaga Muara Angke at 6am. Me and my group arrived at 5.15am, and the queuing line in front of the toilet was almost 10 meters long. As my first impression using a tour travel, it's so difficult to find them with their uniform among those hundreds people. And yes, there are a lot more tour travels. I recommend them to have a board name, really.

I don't think they remember how to sit safely

We boarded a big wooden boat from Muara Angke. It costs Rp. 30k/person. For an effective way, i suggest you to board with a fast boat from Kali Adem-Muara Angke or Dermaga 17-Ancol. It costs 50k, just a little bit more expensive but faster and much more comfortable.


Welcome to Pulau Harapan




My boyfriend friend said that Harapan Island has nothing special but its snorkeling place. Yes, that's right. It's just an island with its local people surrounded by the ocean. We got a nice and clean home stay with AC. Again, it's people houses which are rented every weekend, and the homeowner stays at their neighbor's.

With this tour, we got meals for 3 times. After having lunch, we're getting ready for snorkeling. I'm not a travel expert yet only have a little experiences with beaches and islands. But compare to Tidung Island, Harapan Island located close to another beautiful Island and snorkeling areas.


Snorkeling time with fishing boat!
We snorkeled first at Bira Island. We snorkeled in two spots at Bira Island. The first spot was too common.. Nothing interesting from its underwater ecosystem. I bet human has touched and exploited it too much. Let's take it as a warming up session.. Because the second spot is more interesting for me. Its located couple meters away from Bira island. A light blue sea among the darker blue sea.. Yes, there is a shallow area where we can stand our feet on the sand in the sea. Oh God, i don't know what should i call this.


I was so excited to see this sea. Something i have never imagine that The Thousand-Islands has such a beautiful shallow sea.. Well, I'm sure it has. But since we sailed not to far from Jakarta (only about 3 hours away), i don't expect for such a sea.

We could sea small fishes swimming all around. We could feed to gather them. And -the most important thing-, we could take pictures without disturbing the coral reef by standing on it. :))

Bira Island with Gita and Rena, my best friends from High School
In the shallow sea, pic taken by Yudi (Gita's husband)

After a half hour snorkeling, we decided to move again. Besides, another groups were keep coming and the area were no longer clear because the seawater has been mixed with sand. Our next destination was, Silver Island or Pulau Perak.

An island with white sand near Bira island, where we could enjoy coconut ice and Popmie, hehehe. This is the best part for me. No, not because of the island, but the quality time.. We had a good time playing an all out sand war, taking candid pictures, and last but not least, an accident because my friend hit an urchins in his feet.

Well, it's us who started the "throwing sand" game :p.
Throw it to them who were enjoying coconut ice on the beach
She's my next target!
Look whose coming! He joined and play the role?!?!
Attacked me,
Attacked Rena,
And attacked Opet!
 
We're all getting panic because all we know that urchins can cause a swelling in the whole body. We tried to pull out the urchins while my other friend tried to get local people to ask how to handle it, or get any first aid if needed. After pulling out some urchins, one of the local people told us not to pull it but mashed it until its bleeding. Others, pour vinegar or pee on it. Here comes another panic because we've pulled it out, we had no vinegar, and he didn't want to pee. Then we mashed his feet until its bleeding. This was so funny because he's the most mischievous friend on earth. We guessed he got karma. Hahahaha.

And finally, he got his karma. Hahahaha...
This picture taken by me, with a bit wet finger which turned my boyfriend canon camera to an err 20 (an error due to shutter problem). New camera, new underwater-case and Andrie with his new fresh from the oven hobby. Who didn't feel guilty then? But he's really the nicest guy on earth i have.. He Googled it and he said that i wasn't because of me. He turned the camera off and took the sunset moment with his iPhone, by perforce. :(


We continued it without SLR camera and headed to Round Island or Pulau Bulat. Hmm, kinda spooky, and not recommended. You had nothing to see here. I suggest to choose another island or snorkeling spot. Less than 15 minutes, we decided to boarded and went back to the home stay.

Saturday Nite

A night life in Harapan Island was just the same as any other island in Thousands-Islands. Roasted corns, grilled fish and squid (they don't produce shrimp), some visitors sat on a map beside the pier, while children playing around on the soccer field. The grilled squid was yummy! Sorry i forgot to take the picture.

In here, you'd be better to sleep not too late to wake up early and have a special moment seeing the sunrise -although i woke up late and missed it :(-

June 23rd, 2013.

Cycling to Pulau Kelapa
Nice view isn't it?

They rented bikes. We cycled to Coconut Island (Pulau Kelapa) which was connected to Harapan Island. Too bad we were too late. I got only 20 minutes to cycle around before visiting the turtle breeding. Meh. I promise to wake up earlier next time!


Turtle breeding, here we come! The breeding place was small. But i'm happy they've preserved it. There was a pile of sand to lay turtle eggs, and some ponds to place the new born baby turtles, and the big one before they were released into the sea off.
You only have to pay Rp. 1.000 to get in, and Rp. 2.500 for their maintenance costs.

Newborn Turtles
Hello baby!

Go Hoommee!


Two days are enough for an island. We're going back to Jakarta. If you choose the wooden boat, it's available from 11am. But if you choose the fast boat, it's already available from 9am. Remember, it only has a small capacity. Make sure you have booked it. Ask the local people to book it for you ;).

In Muara Angke, you have some public transportation to get you to the city if you don't bring a car. There are odong-odong (let's named it so), which cost Rp 5000/person to take you out of the port, or Rp 10.000/person and you'll be delivered to Transjakarta station in Pluit. There are also ojek, bajaj, or taxi.

Once again, no need to take a tour travel (sorry dear tour travel, hehehe). All you need is actually only a local people to accommodate you in the island. Because the local people itself were also hired by the tour. Here i give you the budget estimation:

Fast boat : Rp. 50.000/Person
Wooden boat: Rp. 30.000/Person
Homestay: Rp.400.000 (Mostly has 2/3 bedrooms, living room, and 1 bathroom with AC)
Fishing boat: Rp. 500.000 for whole day (able to bring 10-15 persons, life jacket, fin, and goggle include). Choose your snorkeling spot and islands freely.
Meals: 15.000/person for one time meal (if you're lucky, you can choose your menu).

For Harapan Island, freely contact Mas Anto (087782175951) (i forgot he's Anto, Yanto, or Anton.. pardon me, brother). He's very nice, will suggest you good places, and a chill-out kinda person. He's the man who took us with his fishing boat. He will help you booked a boat, fishing boat, etc, etc.

And for home-stay  just call Ibu Isma (081807479035). Her home-stay is clean. But sorry, i have no comparison if there's another better home-stay in this island. You could also order meals through her. And choose some available menu, of course.


Happy weekend getaway!!!

pictures by @andriezeta

Friday, May 24, 2013

Ketulusan Seorang Kakek Si Penjual Payung


Matahari baru muncul dari persembunyiannya sekitar satu jam yang lalu. Gedung-gedung pencakar langit satu persatu mulai mengembun. Begitu pun dedaunan di sekitarnya. Kesibukan kota metropolitan pun tak elak lagi terasa.

Kawasan Mega Kuningan. Kawasan perkantoran, dikenal dengan kawasan paling padat di jam-jam sibuk. Berada di segitiga emas kota Jakarta, di mana masyarakat berpenghasilan tak terhingga dan masyarakat kecil dapat dilihat bersamaan. Di mana gedung tinggi nan mewah hampir selalu disinggahi tukang siomay dan tukang kopi keliling. Ironis.

Di kawasan ini pula duduk seorang kakek tua. Di samping pangkalan ojek seberang Mal Ambassador tepatnya. Dengan barang-barangnya yang terbatas, duduk tanpa menjajakan apapun. Sekilas nampak seperti pengemis, tapi ternyata dia tidak pernah menengadahkan tangannya.

Pukul 7 pagi saya selalu melintas di depannya. Tanpa saya sadari, saya selalu memperhatikannya. "Ternyata dia jualan payung. Syukurlah, bukan pengemis," tuturku setelah melihat 5 payung baru di dalam plastik. Berhari-hari melintasinya, bapak tua ini memang tidak pernah menjajakan barangnya. Berbeda dengan tukang bubur, roti, pecel, soto, dan kacang hijau yang sudah cukup mentereng tanpa perlu dijajakan. Dalam hati aku berjanji, saat senggang, saya akan membeli payungnya.

Berhari-hari berlalu. Saya selalu lupa dan terburu-buru untuk membeli payung saat melintasinya. Akhirnya saya ceritakan niat tersebut pada salah seorang teman kerja, sekaligus minta diingatkan.

Benar saja, pulang makan siang dari Mal Ambassador, dia mengingatkanku, "Heh, katanya lo mau beli payung dia?", seraya menunjuk ke arah si bapak tua. Ah dasar pelupa memang. Akhirnya niat itu pun terpenuhi. Murah sekali harga payungnya. Tanpa pikir panjang, setelah menanyakan harga payung saya langsung membayarkan jumlah lebih dengan niat sedekah. Mukanya sumringah, saya pun lega.

Keesokan harinya, entah mengapa bapak tua ini masih menjadi perhatian saya. Setiap lewat, saya sedikit memperlambat langkah sambil melihat apa yang dikerjakannya. Barang dagangannya tidak pernah banyak. Hanya 3 sampai 5 payung saja. Sampai suatu hari saya melihatnya sedang mengutak-atik payung.

"Pak, bapak bisa benerin payung juga ya?", tanyaku.

"Iya neng, taro aja," kata si bapak.

Saat itu sedang musim hujan yang hampir selalu disertai angin kencang. Beberapa hari sebelumnya pun saya bingung dan bertanya pada seorang teman kerja lainnya, di mana saya bisa memperbaiki payung. Pertanyaan itu disambut gelengan kepala dan bahu yg mengangkat.

Lagi-lagi tanpa pikir panjang saya keluarkan payung saya. "Saya ambil nanti siang ya pak". Si bapak mengangguk sambil asyik memperbaiki payung. Ada 3 payung yang mengantri di perbaiki. Tidak ada payung baru.

Baru keesokan harinya saya mengambil kembali kembali payung itu.

"Maaf ya pak, kemarin siang saya nggak bisa ambil. Ini berapa jadinya?"

"Pantesan neng, saya tungguin sampai jam setengah dua siang padahal," kata bapak penjual payung.

"Berapa pak?"

"Berapa aja neng," jawabnya lagi dengan tulus.

Saya tercengang sejenak. Langsung saya bayar lebih. Lebih untuk ukuran perbaikan payung. Tapi tak seberapa memang kalau dibandingkan makan di restoran di sekitar kawasan itu.

Saya tidak pernah berpikir hal semacam ini akan terjadi di kota besar, di tengah kawasan perkantoran elit, dan di tengah tuntutan serta kebutuhan primer yang menggonggong. Saya yakin kebaikan dan keihklasan semacam ini ada. Tapi mungkin di pinggiran kota, daerah suburban, di luar kota, atau mungkin di pelosok.

Siapapun yang mengalami hal ini, saya yakin akan langsung mendoakan sang kakek, semoga rizkinya dimudahkan dan dilimpahkan. Amin.

Sejak saat itu, saya tak pernah lagi melihatnya duduk di trotoar dekat pangkalan ojek. Sampai saat ini.

Saya menganggap ini sebagai pelajaran, ketukan untuk hati, bahwa ketulusan dan keikhlasan bagi sesama masih ada. Bahkan ketika kamu tidak mengenalnya. Memberi tanpa diminta, tulus ikhlas, dan tanpa berprasangka.

Kakek tua itu mengingatkanku betapa sering kali kita lupa tersenyum. Berjalan terburu-buru dengan urusan masing-masing. Sibuk mengisi perut dan menghias penampilan. Bahkan mengeneralisir semua orang yang tidak dikenal sebagai orang yang patut dicurigai.

Padahal, ada banyak cara untuk menjaga diri. Kalau si kakek bisa menebarkan benih kebaikan, keikhlasan untuk berbagi dengan segala keterbatasan finansialnya, mengapa saya tidak? Kamu? Dan kita semua tidak?

Semoga kakek penjual dan tukang servis payung itu baik-baik saja, dan lebih baik dari sebelumnya.