Follow me by email! ;)

Wednesday, July 10, 2013

Titik Nol – Agustinus Wibowo



“Kamu sudah diperbudak. Masa lalu sudah lewat, tetapi kamu masih disiksa masa lalu. Listen, tak ada kebahagian di sana. Jangan dipikir lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Masa lalu adalah penyesalan, masa depan adalah ketakutan.” Ujar salah satu sadhu Nepal yang menohok Agustinus Wibowo dalam perjalanannya karena masih memikirkan dompet. satu-satunya harta miliknya yang dicopet.


‘Titik Nol’, buku karya Agustinus Wibowo yang mengulas makna perjalanan yang telah dilaluinya, menyuguhkan cerita yang berbeda dari buku perjalanan lainnya. Mengawali titik nolnya dari Lumajang, Jawa Timur pada usia 19 tahun, ia melanjutkan kuliah di Universitas terbaik di China. Namun kemudian memutuskan untuk mengarungi Tibet, India, Nepal, hingga Afganistan, dan bukan melamar pekerjaan ataupun melanjutkan pendidikan S2. Dengan gaya penulisannya yang detil, Agustinus menggambarkan petualangannya bertemu dengan orang-orang disepanjang perjalanannya. Mencari cara untuk berbaur dengan penduduk setempat di Tibet agar lebih mudah berpindah tempat dan mendapatkan harga lebih murah dengan dananya yang terbatas, hingga petualangannya bisa lolos dari zona perang tanpa terluka sedikitpun.

Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan. (Liam Li, Oktober 2012)

Buku setebal 552 halaman ini menggabungkan dua cerita penting dalam hidup seorang Agustinus, kisah mengenai makna sebuah perjalanan dan kesulitan ibunda yang berjuang melawan kanker ovarium. Dituliskan secara bergantian, dikorelasikan di tiap-tiap bagiannya, yang menjadikan kekuatan dan nilai lebih bagi si penulis dalam menggambarkan sebuah kehidupan.

Ada cerita tentang kemiskinan dan rasa sakit akut di negara-negara yang dilaluinya, seakut kanker sang ibu, sepedih luka hatinya sebagai keturunan etnis minoritas yang pernah terhina, seakut sakit Hepatitis yang membuatnya sering kali ambruk di negeri orang, seakut kepolosannya sampai ia harus mengalami pelecehan seksual di negara mayoritas berpenduduk Muslim, dan seakut perang atas nama Tuhan dan agama.

Perjalanannya ini terus ia ceritakan kepada ibundanya yang sesekali memuji atau menertawakannya. Keyakinan akan harapan hidup ibu yang telah melahirkannya, membawanya pergi ke China, bekerja dan mengumpulkan uang untuk membayar biaya pengobatan dan melunasi hutang yang kian menggunung. Tapi saat ia sedang berjuang, ibunya berpulang. Kembali ke titik nol, ke kekosongan, dan menyisakan cibiran orang-orang yang menganggapnya anak durhaka karena tak berada disisi ibunda saat ia menghembuskan nafas terakhir.

Pembaca diajak melihat dari dua sisi. Bahwa arti kehidupan adalah keberanian, keikhlasan, keterbukaan untuk menerima, dan pada akhirnya, penghargaan dan rasa syukur terhadap apa yang dimiliki. Saat membaca alur cerita dan penulisan terasa begitu panjang dan lama. Tapi pembaca digiring untuk tenggelam bersama Agustinus dan perjalanannya, menikmati setiap sudut kota, dan merasakan kesulitan maupun kebahagiaan yang sedang dialaminya. Saat sedang asyik membaca, sering kali kita dipaksa untuk berpindah ke perjuangan sang ibu melawan kanker. Membuat tanda tanya besar, kemana dan bagaimana kisah ini akan berakhir?

@kinantipahlevi
dan dari berbagai sumber.

3 comments:

  1. ulasan yang keren banget. jadi pengen baca bukunya.......

    ReplyDelete
  2. Huaaa... dibilang bagus sama senior produser, editor, the journalist expertnya metro tv... jadi malu sayaahh... semoga ga over or under expected pas baca bukunya ya... hehehhe.. Makasih mas edii...

    ReplyDelete
  3. iya menarik. provokatif. jadi googling soal dia trus pengen tau banyak. hehe

    ReplyDelete