Follow me by email! ;)

Wednesday, March 20, 2013

Chairul Tanjung Si Anak Gang Abu

courtesy news.viva.co.id

Awalnya saya tidak begitu peduli dengan tokoh satu ini. Baru 'ngeh' juga setelah bekerja di media, "oh, pemiliknya Trans Corp". Tapi tiba-tiba muncul tanda tanya besar tentang kebesaran nama Chairul Tanjung setelah salah seorang teman berkomentar, "Ibarat kata belut, CT itu belut dikasih minyak! Pinter banget!".

Sebelumnya, muncul juga komentar lain saat saya duduk manis dimobil yang sedang berhenti di lampu merah, "Buku anak singkong ini dimana-mana deh. Sampe di lampu merah aja ada".

Akhirnya saya tertarik untuk membeli dan membaca buku ini.

Setelah membaca, menurut saya buku ini bagus, sangat saya rekomendasikan buat anda yang pekerja keras dan punya gol besar dalam kesejahteraan hidup. Buku ini jelas mengambil sudut pandang sebuah kerja keras yang akan membawa perubahan dan kesuksesan berbasis pendidikan.

Dari buku ini tergambarkan betapa gigihnya seorang anak singkong (yang sebenarnya saya kurang mengerti maksud anak singkong disini. Mungkin akan lebih pas kalau judulnya anak gang abu, karena dia tinggal di gang tersebut dan berkali-kali menyebut tempat ini) mencari penghasilan. Berbekal kemampuannya bersosialisasi, pemikirannya yang sistematis, dan keadaan yang mendesak, Chairul mampu mencapai cita-citanya.

Banyak kendala yang ia alami menuju kesuksesannya sekarang ini. Tapi satu hal yang sangat saya suka dan setujui, bahwa pendidikan adalah akar segala-galanya.

Terkadang saya bingung bagaimana menjelaskan ke orang lain yang berbeda pendapat tentang pentingnya sebuah pendidikan. Mengapa saya bercita-cita mencari beasiswa program magister, mengapa saya harus memiliki gelar magister, atau bahkan doktor. Dan buku si anak gang abu ini memberikan jawabannya.

Pendidikan di Indonesia mungkin belum sebaik pendidikan di negara maju. Begitupun kesadaran penduduknya akan pentingnya pendidikan. Saat implementasinya pun, sering kali kita tidak sadar, bahwa pendidikan lah yang membawa mu pada keberhasilanmu (apapun itu), saat ini. Pendidikan yang rendah, akan mempersulit kita untuk maju. Misalnya saja anda seorang pedagang kue. Benar memang, yang paling penting bagi pedagang kue adalah keahliannya membuat kue. Tapi apakah harus selesai sampai disitu? Bagaimana jika kue anda terlalu enak untuk dinikmati segelintir orang, dan anda harus membuat PT untuk perusahaan kue anda? Ya, perusahaan, bukan sekedar toko. Bagaimana anda bisa menjalin relasi dan berpartner dengan pengusaha dalam dan luar negeri tanpa pengetahuan yang cukup? Sewa mereka yang ahli di bidangnya? Tapi bagaimana anda bisa menjadi supervisi jika anda buta akan hal itu? Siap untuk ditipu? Akan ada masa di mana anda merasa buntu, bodoh, dan pendidikan lebih lanjut lah yang mampu menjawabnya.

Terima kasih pak CT untuk kuliah singkatnya melalui buku ini.

Sayangnya, saya sebagai lulusan humaniora, ternyata justru lebih menantikan cerita di balik kesuksesannya, yang tidak banyak diceritakan. Ada memang, tapi kurang mengena buat saya. Saya penasaran bagaimana ia menikmati penghasilannya yang miliaran tersebut, bagaimana CT dimata istri dan anak-anaknya, bagaimana ibu, bapak, dan kakak adiknya saat ini? Dan cerita-cerita tidak penting yang justru menunjukkan bahwa CT memang manusia biasa layaknya saya.

Dalam buku ini CT seolah tidak pernah lelah, tidak pernah malas, tidak pernah bolos kerja, dan selalu berbisnis 24/7. Kurang manusia. Hahahahaha...

But over all, this book will give u spirit, and show you that impossible doesn't exist.

No comments:

Post a Comment