Follow me by email! ;)

Wednesday, January 8, 2014

Up and Down is My Middle Name, Lately.


Satu jam down, satu jam kemudian up. Satu hari down, besoknya sumringah. Itu lah yang saya rasakan setelah benar-benar memberanikan diri berentrepreneur sendiri. Yes. Totally alone.

Sebelumnya, saya berencana membangun usaha ini bersama salah satu sahabat dari SD yang sebelumnya juga sempat saya tulis di blog. Tapi seiring berjalannya waktu, kurang lebih setahun, usaha itu stagnan. Tidak ada konflik. Sederhana saja, mungkin karena kita berbeda passion. Sempat terlupa untuk meneruskan keinginan menjadi entrepreneur karena tetiba mendapat pekerjaan di kantor baru.

Beberapa bulan bekerja, entah mengapa saya rindu sekali dengan keinginan saya itu. Akhirnya saya memutuskan untuk membangunnya kembali, dan mengerjakannya dengan serius. Karena satu dan lain hal (yang tidak etis untuk diceritakan) motivasi untuk membangun usaha ini pun semakin kuat. Saat itu, saya berencana untuk go public di bulan November 2013. Ya, rasanya bulan ini akan menjadi bulan favorit saya. Pertama kali bekerja di Metro TV, di tanggal 1 November 2008. Pindah ke kantor baru pun, tanggal 8 November 2012. Terakhir, Closhe go public di bulan November. Semoga, target saya selanjutnya di bulan November 2014 ini juga bisa tercapai. Aamiin.

Saya tidak tahu apakah entrepreneur pemula juga mengalami hal seperti saya atau tidak. Tapi ketidakpercayaan diri adalah musuh terbesar dalam setiap langkah saya. Saat semua sudah siap, kekhawatiran pertama adalah; takut akan respon negatif yang akan muncul, dan orang tidak suka dengan produk saya. Ternyata sebaliknya, setelah merubah konsep dan ciri khas, mereka semua merespon sangaattt positif. Kekhawatiran kedua, setelah pesanan-pesanan itu berdatangan dan sepatu dibuat, saya takut sekali tukang sepatu saya gagal memberikan kenyamanan dan kualitas sepatu seperti yang saya mau. Ternyata, hasilnya bagus. Meski belum sempurna dan masih banyak kekurangan di sana-sini. Kekhawatiran ketiga, saya khawatir pelanggan tidak suka, kecewa, atau tidak pas dengan ukuran yang mereka pesan. Hasilnya? Mereka semua suka dan tidak kecewa (atau mereka tidak mau bilang? Hehehe). Tapi memang, beberapa diantaranya ada yang sepatunya kekecilan. Untungnya, masih bisa diatasi. Dan kekhawatiran saya saat ini, apa bisa saya bertahan? Membuat Closhe menjadi besar seperti cita-cita saya, merencanakan dan merealisasikannya tepat waktu.

Apa saya sudah bilang kalau usaha saya bernama Closhe? Ya, sebuah produk sepatu lokal. Inspirator saya dari Indonesia adalah Niluh Djelantik. Dari luar? Banyak. Tidak perlu disebutkan. Semakin berada dekat dengan inspirator, semakin saya merasa yakin bahwa saya bisa. Sayang, sampai saat ini belum berhasil kenal dan ngobrol dengan Niluh.

Up and down is my middle name, lately. Bekerja sebagai karyawan tentunya berada di lingkungan orang yang mungkin tidak terpikirkan untuk berwirausaha. Mereka jadi tidak peduli dan memandang sebelah mata. Sering kali mereka tanpa sadar mematahkan semangat. Padahal kalau mereka tahu, omset saya saat ini, yang bahkan belum sampai 2 bulan, mungkin sudah setengahnya penghasilan mereka per bulan.

Tidak hanya itu, pusing memikirkan pembelian bahan mentah sendiri, pemasaran sendiri, endorse sana sini, konsistensi publikasi, dan lain-lain juga membuat otak saya serasa penuuhh.. Sambil bekerja kantoran, terbayang content plan mingguan yang belum saya lengkapi, terpikir model sepatu di bulan berikutnya, dan mencari-cari siapa lagi yang bisa di endorse. Sering kali down, tapi begitu mendengar berita baik seperti endorser yang merespon cepat, atau teman yang dengan senang hati membantu mempublikasikan, atau melihat pesanan baru datang, saya langsung up lagi. Semangat lagi.

Ahh.. dinamika menjadi pemula. Saya semakin salut untuk mereka yang terus bertahan hingga saat ini, bahkan semakin sukses. Mereka yang percaya diri, dan berani ambil resiko. Mereka yang menginspirasiku.

Wish me luck! And.... if any of you could help introduce me to Niluh, i will straight fly to Bali. Like, seriously. J J

Me and My Baby